PULAU YANG DI HUNI RIBUAN KUCING





Di salah satu pulau di selatan Jepang, Aoshima, gerombolan kucing memegang kuasa. Di desa nelayan tersebut, kucing dengan bebas keluar masuk rumah penduduk dan mengibaskan ekor di sepanjang jalan.


Awalnya, leluhur kucing ini dipakai oleh para nelayan untuk mengusir tikus yang menggerogoti kapal nelayan. Seiring berjalannya waktu, kucing tersebut berkembang biak hingga jumlahnya enam berbanding satu dengan manusia.
Seperti dilansir Reuters pada Selasa (3/3), lebih dari 120 kucing membanjiri pulau dengan populasi manusia hanya 20 jiwa tersebut. Penduduk Pulau Aoshima mayoritas adalah pensiunan perang yang hijrah bersama gelombang migran pencari kerja setelah Perang Dunia Kedua.

Pada 1945, Aoshima merupakan rumah bagi 900 warga. Kini, tanda-tanda kehidupan manusia hanya terlihat dari kedatangan pelancong harian dari pulau sekitar ke tempat yang dikenal dengan sebutan Pulau Kucing itu.
Tanpa restoran, mobil, toko, atau kios penjaja kudapan, Aoshima bukan surga bagi turis. Namun, para pecinta kucing tidak akan protes.

"Ada banyak kucing di sini, dan ada semacam penyihir kucing yang datang untuk memberi makan kucing-kucing, sangat menyenangkan. Jadi, saya mau datang lagi," ujar seorang turis bernama Makiko Yamasaki.


Membludaknya populasi kucing di negara pencipta Hello Kitty ini memang tidak mengejutkan. Kafe-kafe bertema kucing juga bertebaran di seantero Tokyo, di mana banyak warga dilarang memelihara hewan tersebut di apartemen mereka.

Namun, kucing di Aoshima dianggap berbeda. Mereka tidak terlalu pemilih. Mereka dapat bertahan hanya dengan butir nasi, makanan berenergi, atau kentang yang diberikan turis. Dengan absennya predator, mereka berkeliaran tanpa rasa takut.

Di antara para turis yang memanjakan kucing, satu perempuan lanjut usia justru mengusir binatang tersebut dengan tongkat ketika mencoba masuk ke halaman belakangnya.
Memang tak semua warga Aoshima menyukai kucing. Penduduk mengatur populasi kucing agar tidak terlalu membeludak. Setidaknya 10 kucing sudah dikebiri untuk mencegah lonjakan populasi.

Warga lokal juga kurang menyambut dengan baik kedatangan turis.
"Jika orang datang ke pulau untuk menemukan kenyamanan bersama kucing, saya rasa itu bagus. Saya hanya berharap itu dilakukan dengan cara yang tidak merugikan orang yang tinggal di sini," ucap seorang nelayan bernama Hidenori Kamimoto.



0 Blog Comments
Tweets Comments
Facebook Comments

0 komentar:

Poskan Komentar